PROSPEK BISNIS MINYAK ATSIRI – MINYAK NILAM DIDUKUNG PEMERINTAH

Potensi Pengembangan Minyak Nilam / Minyak Atsiri Di Daerah

\"\"

Merebaknya informasi berfluktuasinya harga minyak atsiri khususnya nilam di Indonesia bukan merupakan hal yang baru. Alasan klasik masalah mutu dan alat penyulingan dikambing hitamkan. Sejak berdirinya Badan Koordinasi dan Komunikasi Produsen Minyak Atsiri (BKKPMA) Indonesia 8 tahun yang lalu sebagai hasil kesepakatan para petani dan penyuling minyak atsiri dari berbagai daerah sentra produksi di Indonesia yang diprakarsai oleh Dirjen IDKM Deperindag RI telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengantisipasi hal tersebut, namun dari pihak sindikasi broker dengan berbagai alasan tetap mengendalikan harga sesuai maunya.Maklumlah komoditas ini hanya untuk pihak pihak tertentu tidak dapat diperjual belikan bebas seperti komoditas consumer lainnya.

Posisi petani dan penyuling menengah ke bawah tidak dapat berbuat banyak karena masih pada posisi tawar rendah dan keterbatasan alat pengukur standart mutu. Sampai pada saat yang paling kritis di tahun 2007 dimana para petani dan penyuling mulai frustasi dan akan meninggalkan bisnis minyak atsiri, persediaan ditingkat sentra produksi langka dan terjadilah lonjakan harga yang luar biasa dari Rp 200.000,- menjadi Rp 1.500.000,- per ltr.

Mencermati hal tersebut serta untuk mempertahankan Indonesia sebagai pemasok terbesar dunia minyak atsiri khususnya nilam, Pemerintah dhi Deperindag RI bergerak cepat dengan membagikan alat destilasi standar mutu internasional kesentra sentra produksi yang potensial di Indonesia, menyelenggarakan seminar/rapat koordinasi bersama Departeme terkait dan para pemangku kepentingan dunia minyak atsiri lainnya.

Salah satu langkah kongkrit yang diambil oleh BKKPMA-Indonesia sebagai organisasi kemasyarakan riel petani dan penyuling minyak atsiri disamping mengadakan koordinasi dengan pihak Departemen terkait, Litbang dan Perguruan Tinggi salah satunya dengan Dr.Hans Siwon peneliti senior minyak atsiri Belanda beserta tim ITS yang telah mengadakan penelitian berbagai jenis minyak atsiri di Situbondo, ternyata hasilnya luar biasa dapat dimanfaatkan untuk pengembangan minyak atsiri khususnya di Jawa Timur dan telah diinformasikan kepada anggotanya yang berada dibeberapa sentra minyak atsiri dalam wilayah Indonesia diharapkan menjadi harapan baru bagi kebangkitan petani dan penyuling minyak atsiri Indonesia yang selalu berada pada posisi yang lemah
Peneliti senior mancanegara tersebut sangat berterima kasih banyak atas peluang kerja sama waktu kunujungan tim ITS di Situbondo.

Langkah tersebut sangat berarti untuk penelitian minyak atsiri Indonesia khusunya di Jawa Timur. Nilam Pasagro, bunga ylang-ylang, daun cemara wangi dan daun clausena anesata sudah di distillasi selama 4 jam di laboratorium . Hasilnya menakjubkan, kandungan minyak bunga ylang ylang 1,1% , daun clausena anesata 1,6% dan daun cemara wangi 0,4%. Karena minyak di lengkapi dengan herbarium dari pohon asli, hasilnya telah dibawa ke Eropa untuk analisa Sekaligus mutu harumnya bisa di nilai oleh tenaga ahli profesional yang menilai minyak atsiri berdasar harum. Daun nilam Pasagro-Balittro baru yang di bawa oleh Prof.Dr. Mahfud Dea dari Fakultas Tehnik Kimia ITS, oleh tim peneliti di pisahkan kayu dan bahan bukan nilam. Daun di destilasi. Hasilnya luar biasa 8,2% minyak, informasi tentang kadar minyak terebut belum pernah tejadi dibelahan dunia ini. Karena sekarang ada herbarium dari pohon nilam Pasagro-Balittro baru, minyak ini juga bisa di analisa untuk publikasi ilmiah. Sekaligus para ahli parfum bisa menilai harumnya dan membanding produk dengan nilam yang sudah ada seperti nilam-Sidikalang dan nilam-Aceh.

Langkah positif tersebut perlu diikuti dukungan kuat birokrasi, informasi tentang masalah-masalah produksi, mutu dan pemasaran produk-produk agrobisnis di Indonesia secara transparan dan berkesinambungan. Jika tidak ada upaya kerja sama dalam kemitraan untuk kemajuan serta peningkatan kesejahteraan para pemangku kepentingan melalui sinkronisasi para pihak tidak mungkin hasil optimum bisa dicapai.

BKKPMA-Indonesia bersama dewan pakarnya berkarya terus dan sudah berhasil menciptakan alat destilasi baru yang dapat memproduksi minyak nilam dengan kemurnian / kadar p.a 50-57. MASIHKAH KITA HARUS BERKIBLAT KE LUAR NEGERI? BANGSA INDONESIA BANGSA YANG BESAR HARUS DIBANGKITKAN KEMBALI JIWA IDEALISNYA

Ketua Presidium Pimpinan Pusat BKKPMA-Indonesia
Dr.H.Sutjipto Wirosari

Sumber: organisasi.org

Leave a Reply